Selasa, 20 Agustus 2013
Sejarah Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokari. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro mendapat pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.
Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 - 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.
Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti pada masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.
• Geografi
Wilayah Kabupaten Sidoarjo berada di dataran rendah. Sidoarjo dikenal dengan sebutan Kota Delta, karena berada di antara dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Kota Sidoarjo berada di selatan Surabaya, dan secara geografis kedua kota ini seolah-olah menyatu.
• Pembagian administratif
Kabupaten Sidoarjo terdiri atas 18 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Kota kecamatan lain yang cukup besar di Kabupaten Sidoarjo diantaranyaTaman, Krian, Candi, Porong dan Waru.
• Perekonomian
Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, diantaranya ikan, udang, dan kepiting. Logo Kabupaten menunjukkan bahwa Udang dan Bandeng merupakan komoditi perikanan yang utama kota ini. Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan "Kota Petis". Oleh-oleh makanan khas Sidoarjo adalah Bandeng Asap dan Kerupuk Udang.
Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis kawasan Indonesia Timur (Surabaya), dekat dengan Pelabuhan LautTanjung Perak maupun Bandar Udara Juanda, memiliki sumber daya manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor industri kecil juga berkembang cukup baik, diantaranya sentra industri kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan sepatu di Wedoro - Waru dan Tebel - Gedangan, sentra industri kerupuk di Telasih - Tulangan.
• Daftar bupati
Berikut ini adalah daftar bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Sidoarjo sejak masa awal kemerdekaan Indonesia:[2]
• R.A.A. Soejadi (1933-1949)
• R. Suriadi Kertosuprojo (1950-1958)
• H.A. Chudori Amir (1958-1959)
• R.H. Samadikoen (1959-1964)
• Kol.Pol. H.R. Soedarsono (1965-1975)
• Kol.Pol. H. Soewandi (1975-1985)
• Kol.Art. Soegondo (1985-1990)
• Kol.Inf. Edhi Sanyoto (1990-1995)
• Kol.Inf. H. Soedjito (1995-1999)
• Drs. Win Hendrarso, MSi (1999-2010)
• H. Saiful Ilah, S.H.,M.Hum (2010-sekarang)
• Transportasi
Bandara Internasional Juanda dan terminal bus Purabaya yang dianggap sebagai "milik" Surabaya, berada di wilayah kabupaten ini. Terminal Purabaya merupakan gerbang utama Surabaya dari arah selatan, dan salah satu terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Kereta komuter Surabaya Gubeng-Sidoarjo-Porong menghubungkan kawasan Sidoarjo dengan Surabaya.
• Olahraga
Di Sidoarjo terdapat klub sepakbola terkenal bernama Deltras FC yang bermarkas di Stadion Gelora Delta dan memiliki suporter setia bernama Delta Mania.
• Kuliner Khas
• Kupang Lontong Sidoarjo + Sate kerang
• Bandeng presto Sidoarjo
• Pariwisata
Candi Dermo Sidoarjo
Lokasi Candi Dermo berada di Dusun Dermo, Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, yang diperkirakan dibangun pada tahun 1535, pada jaman pemerintahan Adipati Kusen. Candi Dermo berbentuk gapura paduraksa terbuat dari bata merah dengan tinggi 13,5 m, panjang 6 m dan lebar 6 m.
Candi Dermo berada di tengah perkampungan penduduk, bersebelahan dengan kuburan. Pada kaki candi terdapat hiasan wajik, ada relief sulur-suluran antara badan dan atap candi, serta tiga buah batu, dua diantaranya di sisi timur dan satu di sisi barat dengan fragmen garuda.
Candi Pari Sidoarjo
Lokasi Candi Pari berada di tengah Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, 15 km dari Sidoarjo, 2 km dari pusat sembur lumpur Lapindo, terbuat dari bata merah, berbentuk hampir menyerupai kubus berukuran 16,86 m x 14,10 m dan tinggi 13,40 m. Di sisi barat terdapat undakan tangga menuju pintu masuk dimana tertulis tahun pembuatan candi.
Keunikan Candi Pari ada pada atap / mahkota yang memakai pola Candi Khmer / Champa, dengan ambang dan tutup gerbang terbuat dari batu andesit. Di sebelah selatan Candi Pari terdapat Candi Sumur, namun dalam keadaan rusak. Candi ini dipugar mulai 13 September 1994 dan selesai pada 1999.
Kawasan INTAKO Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Kecamatan Tanggulangin, 6 km dari kota Sidoarjo, yang merupakan pusat industri kerajinan kulit yang membuat dompet, koper, sepatu, tas, dll.
Kelenteng Teng Swi Bio Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Jl. Raya Krian 124 yang telah berumur ratusan tahun dengan Kong Co utama Kong Tek Cun Ong.
Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Jl. Hang Tuah 32, yang juga telah berusia ratusan tahun dengan tuan rumah Thian Siang Seng Bo.
Kolam Pancing Sedati Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati. Kalanganyar juga penghasil ikan bandeng yang gurih, udang windu, terasi, dan krupuk.
Makam Putri Ayu Sekar Dadu Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Dusun Kepentingan, Desa Sawoan, Kecamatan Buduran, yang konon merupakan putri Raja Minak Sembayu dari Blambangan, dan diyakini sebagai Ibunda Sunan Giri.
Masjid Agung Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Barat Alun-Alun Kota, mulai dibangun pada 26 Suro 1825 Saka (19 Juli 1895) oleh Raden Adipati Pandji Tjondronegoro, Bupati Sidoarjo 1882-1906, makamnya ada di belakang masjid.
Museum Mpu Tantular Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Jl. Raya Buduran, Kecamatan Buduran, dengan berbagai koleksi arkeologi, etnografi, filologi, geologi, sejarah, keramik, senirupa dll.
Pantai Ketingan Sidoarjo
Wisata Sidoarjo di Desa Sawoan, Kecamatan Buduran, dimana pejalan bisa menjelajah dengan naik perahu menyusuri Sungai Karang Gayam, dan menikmati hidangan laut.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sidoarjo
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar