Rabu, 21 Agustus 2013

Perkembangan Teknologi Kloning

Kabar bahwa peneliti telah menggunakan kloning (proses menghasilkan individu baru yang memiliki genetik sama atau identik) pada embrio manusia dengan tujuan memproduksi sel-sel induk kembali menyeruak. Meskipun masih pro dan kontra, para ahli mengatakan sangat memungkinkan untuk mengkloning manusia. Sejak 1950-an silam para ilmuwan sudah berhasil mengkloning puluhan spesies hewan di dunia, termasuk katak, tikus, kucing, domba, babi dan sapi. Meski demikian, para ilmuwan juga tetap menemukan banyak hambatan dan kegagalan. Sehingga, beberapa diantaranya diatasi dengan trial and error. Demikian ungkap kepala petugas ilmiah biotek dari Advanced Cell Technology di Amerika Serikat (AS), Dr. Robert Lanza. “Peneliti tidak bisa menerapkan ilmu yang sudah mereka pelajari dari kloning tikus atau hewan lainnya untuk diterapkan ke kloning manusia. Misalnya, kloning pada binatang mengharuskan peneliti untuk memisahkan nukleus (inti) dari sel telur terlebih dahulu. Ketika peneliti melakukan ini, berarti mereka membuang protein yang penting untuk membantu pembagian sel-sel,” jelas Lanza seperti disitat dari FoxNews, Senin (20/5/2013). Pada tikus, ini bukan masalah, karena embrio itu sendiri yang akhirnya mampu menciptakan protein ini lagi. Sehingga, percobaan dapat dilakukan berkali-kali dengan ribuan sel telur. Sementara pada primata, mereka tidak mampu melakukan ini. Para ilmuwan menduga ini menjadi salah satu alasan kegagalan untuk mengkloning monyet. Terlebih lagi, hewan kloning seringkali memiliki berbagai kelainan genetik yang dapat mencegah implantasi (perekatan embrio pada dinding rahim) atau dapat menghentikan pertumbuhan janin secara spontan. Selain itu juga dapat menyebabkan hewan mati segera setelah lahir. “Ketidaknormalan ini umum terjadi karena embrio kloningan hanya memiliki satu induk atau tunggal, yang berarti pencetakan genetik tidak terjadi dengan baik. Perncetakan ini berlangsung selama perkembangan embrio dalam rahim,” imbuh Lanza. Tak hanya itu, masalah lain yang diakibatkan pencetakan ini dapat mengakibatkan plasenta tumbuh menjadi sangat besar dan tidak normal. Dalam suatu percobaan, Lanza dan timnya melakukan kloning spesies ternak berupa banteng. Kemudian ketika anaknya lahir, terlihat embrio itu memiliki ukuran tubuh dua kali lebih besar dibanding ukuran banteng normal. Kloning juga memiliki risiko tingkat kematian yang tinggi. Lanza menganggap risiko ketidaknormalan yang umum muncul dari kloning ini sangat tidak etis apabila terjadi pada manusia. “Ini seperti mengirim bayi dalam sebuah roket, di mana kesempatan roket untuk meledak atau tidak itu tipis. Sangat tidak etis apabila prinsip ini yang digunakan untuk mengkloning manusia,” tegasnya. Cloning dalam ilmu biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik. Namun dalam bioteknologi, kloning di definisikan pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA atau gen, sel, atau organisme. Arti lain kloning digunakan pula di luar ilmu-ilmu hayati. Kloning pertama di buat oleh seorang ilmuan Inggris, John Gordon sekitar tahun 1950-1960. John Gordon telah sukses membuat kloning katak, sehingga beliaupun mendapatkan hadiah nobel. John Gordon menjadi inspirator ilmuan-ilmuan lainnya di seluruh dunia. Pada tahun 1996,ilmuan Universitas Edinburgh,skotlandia berhasil mengkloning domba dan di beri nama Dolly. Kloning merupakan proses reproduksi aseksual yang biasa terjadi di alam dan dialami oleh banyak bakteria, serangga atau tumbuhan. Dalam bioteknologi, kloning merujuk pada berbagai usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNAatau gen, sel atau organisme. Dengan menggunakan kemajuan teknologi cloning saat ini, kabarnya Brasilia Zoological Garden bekerjasama dengan Brazilian Government’s Agricultural Research Agency (Embrapa) berniat melakukan kloning pada delapan jenis hewan langka di sana, di antaranya maned wolf (Chrysocyon brachyurus) yang merupakan binatang pemburu, the jaguar (Panthera onca) atau kucing besar and the black lion tamarin (Leontopithecus chrysopygus) yaitu sejenis monyet. Dari penemuan-penemuan itu,para ilmuan semakin mencari metode untuk mengkloning manusia.uji coba “bayi tabung” yang pertama kali di kembangkan pada tahun 1978. walaupun pada awalnya di anggap sebagai tindakan ekstrim tapi di terima secara luas setelah kelahiran Louise brown. John Gordon menjelaskan, bahwa apa pun yang dapat dilakukan untuk meringankan penderitaan atau meningkatkan kesehatan manusia biasanya akan diterima secara luas oleh masyarakat. Hal yang sama berlaku untuk kloning. "Jika kloning ini ternyata bisa memecahkan beberapa permasalahan dan berguna bagi orang banyak, saya pikir ini akan diterima," ujarnya. Clonaid merupakan perusahaan yang nekat mengkloning manusia yang berkantor di bahama walau hasilnya tidak pernah di publikasikan, karena hasilnya mengalami kegagalan. Kloning tidak hanya di lakukan terhadap hewan, kloningpun di lakukan terhadap tumbuhan. Kloning tumbuhan merupakan teknik perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Kloning dilakukan dengan menggunakan jaringan somatik tumbuhan di dalam lingkungan aseptik yang terkontrol. Pada tahun 1950 Fred Steward melakukan kloning wortel dengan menggunakan sel-sel yang berdifferensiasi dari jaringan pembuluh tumbuhan. Sel-sel embrionik dapat tumbuh dan menghasilkan tumbuhan wortel baru. Tanaman yang dihasilkan dari hasil kloning sama dengan induknya. Kloning tumbuhan dapat dimanfaatkan untuk industri bibit. Manfaat kloning tumbuhan antara lain dapat memproduksi bibit yang seragam, jumlahnya banyak dalam waktu yang singkat. Dapat digunakan untuk perbanyakan tanaman langka, tanaman jenis unggul dan tanaman bernilai ekonomis. Menurut persfektif hukum Islam kloning masih dianggap kontroversi. Menurut ilmu kedokteran, kloning sangat berguna untuk kepentingan medis. Sumber : http://fpp.untad.ac.id/index.php/12-berita/15-perkembangan-teknologi-kloning

Tidak ada komentar:

Posting Komentar